This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 06 Juli 2015

Qunut dalam Shalat Witir pada Pertengahan Akhir Ramadhan



Qunut merupakan do’a yang dilakukan didalam shalat pada tempat tertentu ketika berdiri. Qunut, selain disunnahkan dilakukan pada setiap shalat shubuh dan ketika terjadi mushibah yang menimpa umat Islam (qunut nazilah), juga disunnahkan dikerjakan pada shalat witir di pertengahan terakhir bulan Ramadhan.


Imam Al-Baihaqi didalam kitabnya Ma’rifatus Sunani wal Atsar dan As-Sunanul Kubro pada “Bab Man Qaala Laa Yaqnut fil Witri Illaa Fin Nishfil Akhiri Min Ramadhan (Bab komentar Orang-orang yang tidak berqunut kecuali pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan) menyebutkan beberapa riwayat, diantaranya Imam Al-Syafi’i rahimahullah berkata :
قال الشافعي: ويقنتون في الوتر في النصف الآخر من رمضان، وكذلك كان يفعل ابن عمر، ومعاذ القاري
“Mereka berqunut didalam shalat witir pada pertengahan akhir bulan Ramadhan, seperti itulah yang dilakukan oleh Ibnu ‘Umar dan Mu’adz Al-Qari” 

عن نافع، «أن ابن عمر كان لا يقنت في الوتر إلا في النصف من رمضان
“Dari Nafi’ : Bahwa Ibnu ‘Umat tidak berqunut didalam shalat witir, kecuali pada pertengahan dari bulan Ramadhan (pertengahan akhir, penj)”


 
أن عمر بن الخطاب «جمع الناس على أبي بن كعب، فكان يصلي لهم عشرين ليلة ولا يقنت بهم إلا في النصف الباقي» . فإذا كانت العشر الأواخر تخلف فصلى في بيته، فكانوا يقولون: أبق أبي
“Sesungguhnya Umar bin Khaththab mengumpulkan jama’ah shalat tarawih pada Ubay bin Ka’ab, mereka shalat selama 20 malam, dan mereka tidak berqunut kecuali pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan. Ketika masuk pada 10 akhir Ubay memisahkan diri dan shalat dirumahnya, maka mereka mengira dengan mengatakan : Ubay telah bosan”. 

عَنْ مُحَمَّدٍ هُوَ ابْنُ سِيرِينَ، عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِهِ " أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَمَّهُمْ، يَعْنِي فِي رَمَضَانَ، وَكَانَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Muhammad bin Sirin, dari sebagian sahabatnya, bahwa Ubay bin Ka’ab mengimami mereka, yakni pada bulan Ramadhan, ia berqunut pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan” 

عَنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ " أَنَّهُ " كَانَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Dari Al-Harits, dari ‘Ali radliyallahu ‘anh, bahwa ia berqunut pada pertengahan terakhir dari bulan Ramadhan” 

عن سَلَام يَعْنِي ابْنَ مِسْكِينٍ، قَالَ: " كَانَ ابْنُ سِيرِينَ يَكْرَهُ الْقُنُوتَ فِي الْوِتْرِ إِلَّا فِي النِّصْفِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Ibnu Miskin berkata : Ibnu Sirin tidak menyukai qunut didalam shalat witir, kecuali pada pertengahan akhir shalat bulan Ramadhan 

عن قَتَادَة قَالَ: " الْقُنُوتُ فِي النِّصْفِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Dari Qatadah : qunut dilakukan pada pertengahan akhir bulan Ramadhan”

Imam An-Nawawi rahimahullah didalam kitabnya Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan dengan panjang lebar dan adil sebagai berikut, 

 “Madzhab bahwa sunnah melakukan qunut pada raka’at terakhir shalat witir pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan adalah pendapat masyhur didalam madzhab Syafi’iyah dan Imam Al-Syafi’i telah menyatakan hal tersebut; Pada satu pendapat disebutkan bahwa disunnahkan pada seluruh bulan Ramadhan dan itu madzhab Imam Malik, dan satu pendapat pula dikatakan bahwa disunnahkan didalam shalat witir sepanjang tahun dan pendapat ini juga ada pada 4 ulama besar kami yakni Abdullah Az-Zubairiy, Abul Walid Al-Nasaiburiy, Abul Fadll bin ‘Abdan dan Abu Manshur bin Mahran, pendapat yang ini dikuatkan didalam dalil hadits Al-Hasan bin ‘Ali radliyallahu ‘anhuma yang telah berlalu penjelasannya pada masalah qunut, akan tetapi yang masyhur didalam madzhab Syafi’iyah adalah pendapat yang sebelumnya yakni bahwa disunnahkan berqunut pada pertengahan akhir bulan Ramadhan, inilah yang dipegang oleh jumhur ulama Syafi’iyah. Bahkan Imam Al-Rafi’I berkata ; dhohir perkataan Imam Al-Syafi’I rahimahullah adalah makruh berqunut pada selain pertengahan akhir dibulan Ramadhan, sehingga seandainya meninggalkannya maka disunnahkan sujud sahwi, namun jika langsung berqunut seketika itu maka tidak disunnahkan sujud syahwi. Al-Ruyani menghikayatkan sebuah pendapat bawha berqunut sepanjang tahun (dalam shalat witir) tidak makruh dan tidak perlu sujud sahwi bila meninggalkannya pada selain pertengahan akhir bulan Ramadhan, ia mengatakan, inilah yang hasan, dan inilah pendapat yang dipilih oleh para masyayikh Thabaristan”.

Menurut Imam Al-‘Imraniy, seorang ulama Syafi'i, didalam kitabnya Al-Bayan, mengatakan bahwa dalil qunut didalam shalat witir pada pertengahan akhir bulan Ramadhan adalah berdasarkan ijma para sahabat, 

“Dalil kami adalah ijma’ sahabat (kesepakatan para sahabat Nabi), bahwa Khalifah ‘Umar bin Khaththab mengumpulkan jama’ah tarawih untuk bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab, mereka shalat tarawih selama 20 malam, dan tidak berqunut kecuali pada pertengahan terakhir (kedua) Ramadhan, kemudina ia shalat sendirian di rumahnya, maka dikatakan : “Ubay telah bosan”. Kejadian ini dengan dihadiri (disaksikan) oleh para sahabat, dan tidak ada satu pun sahabat yang mengingkarinya”.

 
Imam Ahmad Al-Mahamiliy didalam Al-Lubab berkomentar mengenai qunut didalam shalat witir tersebut, 

“Tidak ada qunut didalam shalat witir, kecuali ada pertengahan terakhir bulan Ramadhan, adapuan pada shalat Shubuh, berqunut selamanya, apabila Imam berqunut maka orang yang mengikutinya meng-amin-kannya”.

Imam Al-Qaffal Al-Faquriy didalam Hilyatul ‘Ulama’ fiy Ma’rifati Madzahibil Fuqaha’ 

“Sunnah melakukan qunut pada pertengahan terakhir bulan Ramadhan didalam shalat witir, ini juga pendapat yang dipegang oleh Imam Malik, namun riwayat yang lain darinya menyatakan tidak disunnahkan pada bulan Ramadhan. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat disunnahkan qunut didalam shalat witir sepanjang tahun, ini juga qaul Abdullah Az-Zubairy dari ulama kami, namun posisinya setelah ruku’. Dari ulama kami juga ada yang menyatakan bahwa tempatnya qunut pada shalat witir adalah sebelum ruku’ berbeda dengan shalat shubuh. Akan tetapi yang dipegang didalam madzhab Syafi’i adalah yang pertama”

Terkait tempat dilakukan qunut pada shalat witir, menurut Imam An-Nawawi adalah dilakukan setelah ruku’ berdasarkan pendapat yang masyhur dan shahih, serta tanpa melakukan takbir.

Dan lafadznya pun sebagaimana qunut pada shalat shubuh yakni 

اللَّهُمَّ اهدني في من هديت وعافني في من عافيت، وتولني في من تَوَلَّيْتَ، وبَارِكْ لِي في ما أَعْطَيْتَ، وَقِني شَرَّ ما قَضَيْتَ، فإنَّكَ تَقْضِي وَلا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ولا يعز من عاديت تَبَارَكْتَ رَبَّنا وَتَعالَيْتَ

Redaksi ini berdasarkan hadits hasan, dan Imam Al-Turdmizi berkata “kami tidak mengetahui redaksi qunut yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam yang lebih bagus dari ini”. Lafadz “wa laa Ya’izzu Man ‘Adaiyt” merupakan kombinasi yang berdasarkan riwayat yang lain. Dianjurkan pula mengiringi qunut diatas dengan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam karena hukumnya sunnah.

Atau boleh juga sebagaimana qunut Sayyidina ‘Umar bin Khaththab berikut ini, 

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ، وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ، وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ؛ اللَّهُمَّ إيَّاكَ نعبدُ، ولَكَ نُصلي وَنَسْجُد، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بالكُفَّارِ مُلْحِقٌ. اللَّهُمَّ عَذّبِ الكَفَرَةَ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ، ويُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ للْمُؤْمِنِينَ والمؤمنات والمسلمين والمُسْلِماتِ، وأصْلِح ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِم الإِيمَانَ وَالحِكْمَةَ، وَثَبِّتْهُمْ على مِلَّةِ رسولِك صلى الله عليه وسلم، وَأَوْزِعْهُمْ أنْ يُوفُوا بِعَهْدِكَ الَّذي عاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ، وَانْصُرْهُمْ على عَدُّوَكَ وَعَدُوِّهِمْ، إِلهَ الحَقّ، وَاجْعَلْنا منهم

Bahkan boleh dengan do’a apa saja bila tidak hafal redaksi do’a qunut diatas, dan itu sudah hasil sebagai qunut. Hal ini, menurut Imam Nawawi adalah pendapat yang mukhtar (yang dipilih dalam madzhab Syafi’iyah). Dianjurkan juga bersamaan antara imam dan makmum dalam mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa didalam qunut, karena tidak ada "amin" pada rentan waktu tersebut sehingga mengucapkan bersamaan itu lebih utama.

Disunnahkan juga mengangkat kedua tangan ketika berqunut tanpa mengusap muka, menurut pendapat yang lebih shahih, namun tidak apa-apa bila mengusap muka, tapi sebagian ulama ada yang memakruhkan mengusap muka ketika qunut.

Qunut dianjurkan di-jahrkan (dinyaringkan) apabila shalat witir secara berjama’ah dan makmum meng-amin-kannya, sedangkan apabila sendirian maka dianjurkan di-lirihkan (sir), hal ini berdasarkan pendapat shahih yang dipilih dan banyak dipegang oleh mayoritas ulama. 
 
sumber madinatuliman.com

Sabtu, 30 Mei 2015

Keutamaan Bulan Sya'ban & Nishfu Sya'ban





Nabi Muhammad SAW bersabda, “Keutamaan bulan Sya’ban dari pada bulan-bulan yang lain adalah laksana keutamaanku diatas nabi-nabi yang lain. Sedangkan kelebihan bulan Ramadhan dari bulan-bulan yang lain adalah laksana Allah SWT diatas hamba-hamba-Nya”
“Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku (Rasulullah SAW) dan Ramadhan adalah bulan umatku.” (HR. Ad-Dailami dari Anas ra.)
            Pada bulan Sya’ban Nabi SAW hampir tidak pernah melewatkan setiap saat untuk beribadah pada malam harinya dan berpuasa pada siang harinya, seperti yang telah disampaikan Ummul Mukminin A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Beliau Aisyah ra. Juga berkata, “Pada suatu malam, saya kehilangan Rasulullah. Setelah saya keluar mencarinya, ternyata beliau ada di Baqi’ seraya menengadahkan kepalanya ke langit, beliau berkata “Apakah kamu takut Allah dan Rasulnya mengabaikanmu?” Aisyah berkata “Saya tidak memiliki ketakutan itu, saya mengira engkau mengunjungi sebagian diantara isteri-isteri engkau”. Nabi berkata “Sesungguhnya (rahmat) Allah turun ke langit yang paling bawah pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni dosa-dosa yang melebihi dari jumlah bulu kambing milik suku Kalb”.(HR. Turmudzi no. 670 dan Ibnu Majah no. 1379). Begitu juga Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Saya belu pernah melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. An Nasa’I, Abu Daud, At Turmudzi dan dishahihkan Syaikh Al Albani).
            Dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya : Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan diantara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’I, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani). Didalam bulan Sya’ban ada satu malam yang begitu istimewa, yakni malam Nishfu Sya’ban. Menurut Imam Syafi’I, malam Nishfu Sya’ban adalah suatu malam yang mustajabah, dan menurut ‘Atha bin Yasar, malam NIsfu Sya’ban adalah malam yang paling utama setelah Lailatul Qadar, sedangkan menurut ulama yang lain, malam Nishfu Sya’ban adalah malam dilaporkannya catatan amal tahunan kepada Allah SWT.
            Malam Nishfu Sya’ban merupakan malam mustajabah atau malam yang tidak ditolak semua doa-doa yang dipanjatkan pada malam itu, karena pada malam itu Allah SWT turun ke langit bumi dengan penuh rahmat-Nya. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Jami’,
“Ada 5 malam yang mana tidak akan ditolak doa-doa pada malam tersebut, yaitu malam pertama bulan Rajab, malam 15 pada bulan Sya’ban (Nishfu Sya’ban), malam Jum’at, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha.” (HR. Imam Ad-Dailami dan Ibn Asakir dari Abi Umamah)
            Malam pertengahan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) disebut juga malam  Baro’ah , dikarenakan pada malam tersebut Allah SWT memutuskan hubungan orang-orang yang menjadi musuh-Nya dan orang-orang yang telah celaka dari surga-Nya, sedangkan hamba-hamba yang bertaqwa dan menjadi pilihan-Nya, pada malam itu  diputuskan hubungannya dengan neraka. Malam nishfu Sya’ban mengandung begitu banyak keutamaan dan keistimewaan, diantarannya : Dari Nashr ra. Nabi SAW telah bersabda, “Pada malam Baro’an (Nishfu Sya’ban), Malaikat Jibril dating kepadaku dan berkata, “Wahai Muhammad! Umatmu yang tidak musyrik telah diserahkan kepadamu, dan angkatlah kepalamu ke arah langit dan amatilah apa yang engkau lihat, lalu Nabi SAW memandang kea rah langit, tiba-tiba pintu langit terbuka, para malaikat mulai dari langit dunia sampai ‘arsy, mereka sujud dan memintakan ampun bagi umat Muhammad. Dan pada setiap pintu terdapat malaikat dan berseru, “(Pintu 1) Berbahagialah orang yang rukuk di malam ini, (Pintu 2) berbahagialah orang yang sujud di malam ini, (Pintu 3) berbahagialah orang yang berdzikir di malam ini, (Pintu 4) berbahagialah orang yang berdoa di mala mini, (Pintu 5)berbahagialah orang yang menangis karena takut siksa Allah di malam ini, (Pintu 6) berbahagialah orang yang beramal kebajikan di malam ini, (pintu 7)berbahagialah orang yang membaca Al Qur’an di malam ini. Kemudian malaikat berseru, “Adakah orang yang meminta sesuatu? Maka akan dikabulkan permintaannya, adakah yang bertaubat? Niscaya diterima taubatnya, adakah orang yang memohon ampunan? Niscaya akan diampuni.”
            Dari Sayyidina Ali ra. Nabi SAW bersabda, “Jika malam pertengahan bulan Sya’ban telah tiba, maka bangunlah kamu pada malam harinya untuk mengerjakan sholat dan di siang harinya berpuasalah. Sebab Allah SWT turun ke langit dunia malam itu, (Yaitu saat terbenamnya matahari sampai terbitnya pada pagi hari) dan berfirman, “Adakah orang yang meminta sesuatu niscaya, akan Aku kabulkan permintaannya, adakah orang yang memohon ampunan niscaya akan Aku ampuni dan adakah orang orang yang meminta rizki niscaya akan Aku beri rizki.”
            Riwayat lain dari Abu Hurairah ra. Nabi SAW telah bersabda, “Jibril as. Telah dating kepadaku di malam pertengahan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) dan berkata, “Hai Muhammad! Inilah malam dibukanya pintu-intu langit dan rahmat, karena itu bangunlah dan sholatlah, serta angkat kepalamu dan kedua tangan kea rah langit”. Nabi menjawab, “Malam apakah ini wahai Jibril?”, Jibril menjawab, “ini adalah malam dibukanya 300 pintu rahmat, bahwasannya Allah SWT mengampuni dosa orang orang-orang yang tidak menyekutukan sesuatu kepada Allah SWT, kecuali tukang sihir, dukun, orang yang suka bermusuhan, pecandu khomer, pelaku zina, pemakan riba, berani kepada orang tua, pengadu domba dan pemutus tali silaturrahmi. Mereka sema tidak akan diampuni hingga mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatannya”, (lalu Nabi SAW keluar menuju ke masjid dan mengerjakan sholat, selesai sholat berdo’a dengan menangis, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari azab-Mu, aku tidak dapat menghitung puji-pujian untuk-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-mu sendiri bagi-Mu segala puji sampai Engkau ridlo dan puas”.
            Selain amalan-amalan tersebut, kita juga dianjurkan memperbanyak membaca Al Qur’an, berdasarkan riwayat dari Anas ra. Ia berkata, “adalah orang-orang muslim apabila masuk bulan Sya’ban, mereka membuka mushaf-mushaf Al Qur’an dan membacanya, mengeluarkan zakat dari harta mereka untuk member kekuatan kepada orang-orang lemah dan orang-orang miskin untuk melakukan puasa di bulan Ramadhan.
Salamah bin Suhail berkata, “Telah dikatakan bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan ara qurra’ (Pembaca Al Qur’an)
“Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad para ulama, konon beliau adalah Syeikh al buni dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk”. (Asna al-Muthalib, 234)
“Diantara keistimewaan surat Yasin, sebagaimana menurut para Ulama, adalah dibaca pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 3 kali. Pertama dengan memohon panjang umur, kedua memohon terhindar dari bencana, dan ketiga memohon agar tiddak bergantung kepada orang lain (keluasan  rizki)”. (Fathchul al-Majd, 19) dengan niat utama memohon ridho Allah SWT.
Adapun tradisi ziara kubur di malam Nishfu Sya’ban juga telah dicontohkan oleh Nabi SAW. Pada malam Nisfu Sya’ban, Rasulullah SAW selalu mendoakan umatnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Dalam hal ini, Sayyidina Ali ra. Menceritakan sebagaimana berikut, “Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada mala mini (malam Nishfu Sya’ban) ke Baqi’ (Kuburan dekan Masjid Nabawi) dan aku mendapati beliau dalam keadaan memintakan ampunan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan serta para syuhada”. Jadi, jelas bahwa berziarah pada malam Nisfu Sya’ban ke makam-makam terutama makam orang-orang sholeh.
             Banyak hadist-hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnad beliau, Imam At-Tirmidzi At-Thabrani, Ibnu Hibban, menetapkan bahwa Rasulullah SAW sangat memuliakan malam Nishfu Sya’ban dengan memperbanyak sholat, membaca Al Qur’an, berdoa, dan istighfar. Jadi bukanlah perbuatan bid’ah dan bukan pula perbuatan aneh jika malam Nishfu Sya’ban dijadikan malam untuk banyak berdzikir, membaca Al Qur’an, berdoa dan istighfar serta melakukan sholat-sholat sunnah bagi kaum muslimin.
            Bulan Rajab adalah bulan untuk menyucikan badan kita, bulan Sya’ban untuk menyucikan hati kita, dan bulan Ramadhan adalah bulan menyucikan jiwa kita. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan  dan kemudahan kepada kita dalam menjalankan segala amal ibadah di bulan Sya’ban dan Ramadhan, Amin. Wallahu A’lam Bisshowab.
Firman Allah SWT (Hadist Qudsi)
Dari Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang sibuk dengan Al Qur’an dan berdzikir sampai tidak sempat memohon kepada-Ku, maka Aku anugerahkan kepadanya sesuatu yang paling utama yang aku berikan kepaada orang-orang yang berdoa” (HR. Imam attirmidzi, dan berkata Hadist Hasan)

DOA MALAM NISHFU SYA’BAN
“Ya Tuhan, Jika Engkau mencatat namaku didalam lembaran orang-orang yang durhaka dan celaka, maka hapuslah nama itu dan catatlah namaku dalam lembarang orang-orang beruntung, maka biarkanlah hal itu. Karena Engkau telah berfirman didalam kitab-Mu yang mulia : “allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki dan pada-Nya Ummul kitab”
(QS. Ar-Rad : 39)

Malam Nishfu Sya’ban (15 Sya’ban 1436 H) bertepatan pada hari Senin malam, 1 Juni 2015

BULETIN DAKWAH ASWAJA
“At-Tanwir”
(Edisi 10)
Infaq dan Shodaqoh donator :
BNI Syari’ah no. rek. 0376772537
An. Nur Achmad Fathoni

Kritik, Saran, Pemesanan, Pasang Iklan
Fathoni            (081235080097)
Mubarok          (081936987885)


SONGKOK EXCLUSIVE
“CONTAN”
(Motif Bordir ; Motif Soga ; Model Susun ; Model AC)
Produksi : Bedilan –Gresik, Jawa Timur
(081936987885)

Buletin Dakwah AT-TANWIR diterbitkan oleh Komunitas Penggerak Aswaja Gresik (KOMPAG) berkerjasama dengan ASWAJA NU CENTER PCNU Gresik
http://buletinattanwir.blogspot.com/

“Menegakkan Syari’ah, Memperkuat Aqidah Ahlussunah Wal Jama’ah)

Selasa, 10 Maret 2015

Kaos "Giri Kedaton"


Giri Kedaton merupakan sebuah bangunan istana kesultanan Giri yang bertingkat tujuh "Kedaton Tondo Pitu", dibangun oleh Sunan Giri diatas sebuah bukit pada ketinggian 20 mdpl tahun 1486 M. Berlokasi di jalan Sunan Giri Gg. XIII, dusun Kedaton, desa Sidomukti, kecamatan Kebomas - Gresik, Jawa Timur

Tema   : Giri Kedaton
Bahan  : Combed 30s
Warna  : Putih
Ukuran : L dan XL
Harga   : Rp 70.000

Pemesanan : (Nama) ; (Alamat) ; (Tema) ; (Ukuran) kirim ke 087839647467

ASMARADANA



Nama           : Asmaradana
Kategori       : Komunitas
Deskripsi      : Komunitas Pencinta Sejarah dan Kebudayaan Islam di Gresik
Berdiri          : Jum'at, 19 September 2014 M
Diresmikan   : Ahad, 5 Oktober 2014 M (10 Dzulhijjah 1435 H)
Lokasi          : Gresik, Jawa Timur, Indonesia
Telp              : 089675647467
FB                : www.facebook.com/sangasmaradana
Twitter         : @sangASMARADANA
E-mail          : sangasmaradana@yahoo.com


Perspektif Sejarah dan Hari Jadi Gresik



Hari jadi suatu kota pada prinsipnya adalah sebuah pilihan yang berasal dari masyarakat. Pendekatan ilmiah teknis pada dasarnya hanyalah merupakan alat atau sarana untuk menjamin bahwa pilihan itu mencerminkan sebuah obyektivitas. Hal ini pula yang mendasari penetapan hari jadi kota Gresik tepat pada “9 Maret”.


Berdasarkan pertimbangan pada aspek ilmiah teoritis dan aspek emosional idealis, maka hari jadi kota Gresik ditetapkan dari titik awal yang memotori penampilannya sebagai pusat wilayah perjuangan hidup diwarnai aspirasi dinamika budaya dan semangat swasembada serta patriotism relegiusitas masyarakat pendukungnya, maka jelas pilihannya ialah dari kurun masa pemerintahan Syeikh Maulana Ainul Yaqin “Sunan Giri” dengan sebutan ”Prabu Satmoto”.


Beberapa faktor yang memperkuat pemikiran diatas adalah masa pemerintahan “Sunan Giri” merupakan titik awal dari segala kegiatan yang diteruskan oleh generasi penggantinya hingga “Panembahan Kawisguwa” dimana kasunanan Giri V ditaklukan oleh Mataram. Kekalahan Giri oleh Mataram hanya bersifat politis semata hal ini dibuktikan dengan aspirasi dinamika budaya dan semangat swasembada patriotik religious masyarakat yang tetap kokoh Perlawanan terhadap Belanda secara habis-habisan pada perang Trunujoyo (1675) menjadi bukti kepatriotan masyarakat Giri Gisik “Gresik”.


Selain itu Gresik tidak pernah kehilangan semangat dan keimanan Islamnya sampai kini berkat binaan Waliyullah dan para Mubaligh, khususnya Syekh Maulana Malik Ibrahim “Sunan Gresik”, Sayyid Ali Murtadlo “Sunan Gisik”, Syekh Maulan Ainul Yaqin “Sunan Giri”, dan Syekh Maulana Fatichal “Sunan Prapen”. Sunan Giri merupakan anak angkat saudagar kaya sholehah yang merupakan penguasa pelabuhan Gresik “Nyai Ageng Pinatih”.


Selanjutnya berguru pada Sayyid Ali Rahmatullah “Sunan Ampel” dan dilanjutkan berguru pada ayahanda beliau “Syeikh Maulana Ishaq” dan mendapat amanah mendirikan sebuah tempat pusat tempat dakwah yang nantinya dikenal dengan istilah “Pesantren” yang letaknya diatas sebuah bukit di dusun Kedaton, desa Sidomukti dengan kekuasaan yang beribukota di “Giri Kedaton”.


Selain sebagai penguasa yang bebas dan merdeka, Sunan Giri berhasil membangun serta memiliki perangkat pemerintahan baik rohani maupun duniawi. Beliau juga berhasil mempersatukan para bupati pesisir dibawah pengayoman penguasa – penguasa mslim sepanjang kota-kota pesisir antara Surabaya hingga Blambangan.


Sebagai ibukota pemerintahan Gresik, Giri Kedaton secara historis dan arkeologis telah terbukti keberadaannya. Hasil penggalian arkeologis oleh Dinas Purbakala (1997) telah mampu menjelaskan komposisi tata letak pemukiman ibukota Giri Kedaton yang disertai stratifikasi social di dalamnya serta bentuk pemerintahan yang berlaku kala itu. Saat yang paling tepat dari kurun waktu pemerintahan Sunan Giri untuk dijadikan momentum hari jadi kota Gresik ialah saat “Penobatan” Sunan Giri sebagai penguasa “Prabu” yakni tanggal 12 Rabi’ul Awal 894 Hijriyah yang bertepatan pada tanggal 9 Maret 1487 Masehi.


Referensi : Anonim. 1991. Kota Gresik Sebuah Petspektif Sejarah dan Hari Jadi. Gresik : Pemkab Gresik


Ditulis Oleh Wahyu Firmansyah